Sabtu, 11 Januari 2014

MATA HATI SEKEPING CINTA UNTUK IBU

Hari ini saya nangis bombay dapen teks ini dari guru saya :

Malam itu saya bersama si pandir
sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi panas di sebuah
café yang terletak di daerah perbukitan sambil menikmati
indahnya pemandangan dan
suasana alam di malam itu. Tiba-tiba tanpa sengaja kami bertemu
sepasang suami isteri yang tampak sangat familiar, yah itu
ternyata adalah salah seorang kawan lama, dia adalah bani beserta istrinya, senior kami di
sebuah organisasi, sudah hitungan tahun kami tidak bertemu.
Kamipun saling menyapa gembira, cukup terharu bisa
bertemu secara tak sengaja di tempat itu,  lalu kamipun asyik
mahsyuk tenggelam dalam perbincangan hangat penuh kerinduan, ternyata kawanku Bani sekarang menjadi seorang relawan di sebuah organisasi kemanusiaan
Internasional, dia memiliki jabatan cukup tinggi, dia bercerita
berbagai pengalamannya dalam
aksi-aksi kemanusiaan, dia bilang sungguh menyenangkan bisa
membantu dan membahagiakan
banyak orang di berbagai belahan
dunia. saya lalu bercanda pada istrinya, wah mbak nggak takut
tuh ditinggal-tinggal pergi mas bani, nggak takut mas nya
kepincut cewek-cewek luar?!

Kucandai seperti itu istrinya lalu melirik sambil tersenyum mesra pada suaminya, lalu menggelayutkan diri pada tangan
suaminya, saya percaya sekali sama mas bani, dan sudah 15 tahun pernikahan kami, mas bani tetap menjadi seorang pria luar biasa yang selalu mesra dan bisa selalu membahagiakan saya,
mendengar ucapan istrinya bani tertawa, lalu dia bilang, setiap ada waktu luang saya selalu mengajak
istriku berbulan madu, sedikitnya sekali dalam sebulan, dan kegiatan ini sudah rutin saya
lakukan selama 15 tahun masa pernikahan kami, yah tentunya
bagaimanapun kebahagiaan keluarga saya adalah nomor satu, bagaimana mungkin saya bergelut
menghabiskan hidup saya untuk membahagiakan banyak orang tetapi anak isteri saya tidak
mampu saya bahagiakan?

Wah jujur saat itu saya merasa sangat kagum dengan sosok seniorku itu, dia hidup menjadi
pahlawan bagi banyak orang dan bagi keluarganya, ditengah saya sedang sibuk mengagumi sosok
mas bani ini, kawanku pandir nyeletuk, gimana dengan ibumu
mas apa kabar?
Terakhir di telpon
keadaan nya baik shob, jawab bani, kapan terakhir ketemu Ibu?
Tanya pandir lagi, lebaran kemarin shob. Wah lama juga yah
mas, sering telpon ibu? Yah lumayan, minimal sebulan sekali saya sempatkan sekalian saya mengirim uang untuk ibu, yah berbagi sedikit kebahagiaan juga dengan ibu shob, jawab bani.

Pandir melanjutkan
pertanyaannya, yakin mas ibu sudah cukup bahagia dengan kiriman uang dari sampean itu? Selama menikah sudah berapa
kali sampean ngajak ibu sampean makan bersama seperti sampean ngajak makan diluar istri sampean?

Mendapat berondongan
pertanyaan dari si pandir raut muka mas bani mulai berubah
memucat, dengan suara yang berubah menjadi berat mas bani
menjawab, astaghfirullaah,
terimakasih shob ente udah ngingetin saya, selama 15 tahun
setelah saya menikah belum pernah sekalipun saya mengajak ibu saya untuk menikmati makan bersama di luar,saya hanya berfikir saya sudah merasa
berbakti dengan mengiriminya uang setiap bulan, tanpa saya
pernah bertanya bagaimana ibuku
ingin kubahagiakan.

Lalu istrinya tersenyum dan berkata mas minggu depan kan kamu libur, coba sekarang telpon ibu dan
bilang sama ibu minggu depan kamu bakal ngajak ibu jalan-
jalan. Saat itu juga mas bani menelpon ibunya, sengaja suaranya dia
keluarkan lewat loudspeaker biar kami semua mendengarnya,
Ibunya mas bani seorang janda, beliau ditinggal mati suaminya saat mas bani duduk di bangku SD, yang akhirnya terpaksa ibunya harus menjadi single parent yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi mas Bani anak semata wayangnya, tiba-tiba
terdengar suara tua ibu mas bani mengangkat telpon, lalu ibunya dan mas bani saling bertanya
kabar, kemudian mas bani berkata pada ibunya, bu minggu
depan bani libur 3 hari,
rencananya bani mau ngajak ibu jalan-jalan ke bandung, bani
pengen ngajak ibu mengunjungi tempat-tempat yang dulu suka ibu ceritain sebagai tempat penuh kenangan antara ibu dan ayah, sekalian bani ajak ibu makan di
restoran favorit ibu dulu dimana ibu suka ngajak bani makan disitu kalau pas lagi liburan, Gimana
bu? kalau ibu bersedia jum'at sore bani jemput? Tanya bani pada ibunya.

Nampaknya ibunya merasa heran, dia malah balik bertanya, anakku apakah terjadi sesuatu padamu?
Tidak bu tidak terjadi apa-apa sama Bani,berulang kali ibunya
bertanya seperti itu dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh mas bani, setelah yakin akhirnya ibunya mendesah dan bilang
syukurlah kalau memang gak terjadi apa-apa sama kamu
anakku, beneran nih ibu jalan-jalan sama kamu? iya bu, ibu jalan-jalan sama bani, terus
menantu sama cucu ibu diajak juga kan? Iya diajak, tapi nanti
istri sama anak bani Cuma bisa nemenin ibu sehari pas hari
minggu saja, mereka menyusul nanti,soalnya anak bani kan
sekolah bu, yah dengan sangat senang hati ibu mau ban, sudah 15 tahun yah sejak kamu menikah kita belum pernah pergi sama-sama lagi? Iya bu, kalau gitu sampai ketemu hari jum'at yah
bu,dan mas bani pun mengakhiri telponnya.

Yah itulah cerita saat bersama temanku pandir bertemu dengan
mas bani, tiba-tiba seminggu yang lalu kami mendapat kabar kalau ibunya mas Bani meninggal dunia, saya bersama pandir akhirnya memutuskan untuk datang bersama-sama menemui senior
kami itu di acara tahlilan 7 hari ibunya mas bani, kami melihat
kesedihan yang begitu mendalam di wajah mas bani masih begitu
Nampak dengan sangat jelas, saat melihat kedatangan kami, mas
bani langsung memeluk kami dan
tangisnyapun pecah tak
tertahankan.

Setelah selesai acara tahlilan mas bani mengajak kami berbincang di halaman belakang rumahnya,
sudah tersedia 3 cangkir kopi dan cemilan, dengan tatapan mata nanar ke langit, mas bani mulai
bercerita, tempo hari setelah pertemuan kita di café itu, hari jum'at pekan depannya saya
menepati janji saya mengajak ibu jalan-jalan, saat saya
menjemputnya, ibu tampak sudah sangat siap dan wajahnya begitu gembira, raut kebahagiaan itu begitu tampak jelas di wajahnya, yang baru kusadari kalau dia
ternyata sudah semakin tua, saat
melihat mobilku datang, ibu langsung sedikit berlari menghambur ke luar
menyambutku, saat saya turun dari mobil ibu langsung memeluk
dan menciumiku, saat kutanya apa ibu sudah siap? Ibuku menjawab
wah ibu sih sudah siap sejak siang tadi, dan semua persiapan
sudah ibu lakukan sesaat setelah kamu telpon ibu minggu lalu, dan tahu tidak ban, tak ada satu pun tetangga di Blok ini yang tak ibu
kabari, mereka iri loh sama ibu, karena punya anak sebaik kamu, dan mereka tiba-tiba banyak yang
merengek meminta diajak jalan sama anak-anaknya.

Jujur saat itu muncul perasaan sangat berdosa dihati saya,
ternyata sudah begitu lama saya membiarkan ibu dalam kesendirian, nampaknya ibu sangat merindukan saat-saat
seperti waktu itu, dan saat yang dinantikannya pun akhirnya datang juga, saat itu kami benar-
benar menikmati kebersamaan kami, saya benar-benar melihat ibu yang begitu bahagia, bahkan
saat dalam perjalanan menuju bandung kami sempat mampir ke
sebuah restaurant, dan kalian tahu saat itu ibuku tidak memesan
makanan, dia sibuk
memandangiku dengan tatapan bahagia, dia bilang selera makan
ibu sudah hilang karena ibu terlalu bahagia, gak percaya kalau ibu sekarang lagi bareng sama kamu. Saya pun saat itu
menjanjikan pada ibu kalau saya akan mengajak ibu jalan-jalan seperti ini lagi, mendengar janji saya itu ibuku tersenyum bahagia penuh harap. Namun karena
terlalu larut dengan kesibukan saya, ternyata saya pun melupakan janji saya sama ibu dan kembali
membiarkan ibu berlama-lama dalam kesendirian hingga
akhirnya bagai disambar petir saat tiba-tiba saya mendapat
telpon dari pembantu setia ibu kalau ibu meninggal saat sedang
sujud waktu sholat shubuh.

Tanpa disadari air matapun kembali mengalir dari mata mas
bani, setelah menyeka air matanya dan menarik napas panjang, mas bani melanjutkan
ceritanya, dan kalian tahu, 2 hari setelah kematian ibu, datang
seseorang pegawai dari sebuah biro wisata, dia bilang kalau 3 hari lalu berarti sehari sebelum
ibuku meninggal beliau datang memesan paket wisata ke Bandung 3 hari untukku dan istriku, dan dia pun menitipkan surat kepadaku, kemudian mas bani menyerahkan surat dari ibunya itu kepadaku untuk kubaca, saya pun membacanya
dengan bersuara.

"Bani anakku, sungguh ibu bahagia sekali saat kamu mengajak ibu jalan-jalan tahun lalu, tiada kebahagiaan yang
terbaik buat ibu kecuali ibu bisa
menikmati hari-hari bergembira bersama kamu, juga bersama istri dan anakmu, anak ku, tahukah kamu, ibu sangat bangga terhadap
kamu, tidak sia-sia ibu
membesarkan kamu, ternyata kamu bisa menjadi orang yang
bemanfaat buat banyak orang, setiap sehabis kamu telpon dan
kamu cerita petualangan kamu
keliling dunia membantu banyak
orang, ibu selalu menceritakan kembali cerita itu dengan bangga kepada para tetangga dan ibu-ibu
pengajian, dan tahu kah kamu mereka begitu senang
mendengarnya dan begitu iri sama ibu,apalagi saat kamu
mengajak ibu berlibur,itulah hari yang paling membahagiakan buat
ibu.

Ibu senang kamu mengirimi uang tiap bulan pada ibu, itu
menunjukkan betapa kamu adalah anak yang tau balas budi dan berbakti pada ibumu, tapi bukan lah materi yang ibu inginkan, ibu hanya ingin melihatmu bahagia, makanya
kenapa ibu tak pernah mau sengaja menghubungimu terlebih dahulu serindu apapun ibu
kepadamu, karena ibu takut mengganggumu,dan saat kamu menghubungi ibu itulah saat yang paling ibu tunggu walaupun
hanya sebulan sekali,melihat kamu bahagia dan bisa menceritakan dirimu dengan sedikit kebanggaan itu sudah
sangat cukup buat ibu.

Uang setiap bulan kamu kirimkan tidak sepeserpun ibu
gunakan, karena uang pensiun ibu pun masih cukup untuk menghidupi ibu, uang itu sengaja ibu kumpulkan dan ibu belikan sawah serta ibu buatkan rumah
penggilingan padi, bukan apa-apa bila suatu saat nanti kamu sudah tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanmu yang sekarang, kamu tidak menganggur dan tidak
kekurangan biaya untuk istri dan anak-anakmu, sekarang sawah dan rumah penggilingan padi itu
di urus sama anak nya mbok iyem pembantu setia kita.

Anakku, ibu menunggu-nunggu saat kamu mengajak ibu kembali
jalan-jalan dan berlibur bersama seperti yang kamu janjikan, namun ibu sungguh tahu kalau ibu tak akan pernah mendapatkan
kesempatan itu lagi karena ibu tahu kalau besok Allah akan
menjemput ibu. Dan saat kamu bilang saat itu ingin mengajak
ibu berlibur lagi, ibu sudah berjanji pada diri ibu sendiri kalau nanti biar ibu yang
menanggung biayanya, biar ibu merasakan lagi walaupun hanya sekali ibu memberi nafkah dan masih bisa berguna untuk anakku,
maka dari itu ibu belikan paket liburan ini untukmu bersama
istrimu sebagai pengganti ibu.

Semoga Allah selalu menjaga dirimu dan keluargamu, serta
selalu melimpahkan kasih sayang–Nya untukmu dan keluargamu."

Saya sungguh tak kuasa menahan air mata jatuh mengalir basahi
wajah ini, bahkan si pandir orang yang super slengean itu pun
menangis sesegukan.

Saya sadar selama ini saya salah besar, berpikir bahwa orang tua saya membutuhkan balas budi, dan
saya selalu berpikir ingin membahagiakan mereka dengan materi untuk membayar atas
semua biaya yang telah mereka keluarkan buat saya, padahal sampai kapanpun saya tak akan
pernah mampu membalasnya. Dan
saya akhirnya sadar bila ternyata bukan materi yang orang tua
butuhkan, tetapi melihat anaknya
bahagia, mungkin hanya sedikit berharap suatu saat bisa
membanggakan anaknya pada saudara, tetangga dan teman-
temannya.

Saya teringat sebuah sya'ir tentang ibu berikut ini :

BALAS BUDI UNTUK IBU

Ketika usiamu 1 tahun, ia menyuapi dan memandikanmu
Kau membalasnya dengan menangis sepanjang malam

Ketika usiamu 2 tahun, ia mengajarimu melangahkan kaki
Kau membalasnya dengan lari menjauh kala dia memanggilmu

Ketika usiamu 3 tahun, ia menyiapkan sarapanmu dengan
segala cinta kasih
Kau membalasnya dengan membanting piring di lantai

Ketika usiamu 4 tahun, ia memberimu seperangkat krayon
Kau membalasnya denganmencorat-coret meja makan

nKetika usiamu 5 tahun, ia mengenakanmu pakaian untuk berlibur
Kau membalasnya dengan bermain-main di onggokan lumpur

Ketika usiamu 6 tahun, ia mengantarkanmu ke sekolah Kau membalasnya dengan
berteriak : "AKU NGGAK MAU
SEKOLAH!"

Ketika usiamu 7 tahun, ia menghadiahimu bola sepak Kau membalasnya dengan
melemparkannya ke jendela
tetangga sebelah

Ketika usiamu 8 tahun, ia memberimu es krim
Kau membalasnya dengan menciprat-cipratkannya di sekujur
badanmu

Ketika usiamu 9 tahun, ia memanggilkanmu guru les piano Kau membalasnya dengan
bermalas-malasan untuk berlatih

Ketika usiamu 10 tahun, ia mengantarmu sepanjang hari, Dari
main bola hingga senam, dari satu pesta ulang tahun ke pesta ulang tahun lainnya
Kau membalasnya dengan melompat dari mobil dengan secepat kilat tanpa menengok lagi

Ketika usiamu 11 tahun, ia membawamu dan teman-temanmu nonton film Kau membalasnya dengan
memintanya duduk di barisan lain

Ketika usiamu 12 tahun, ia menegurmu untuk tidak menonton acara TV tertentu
Kau membalasnya dengan menunggunya hingga ia bepergian

Ketika usiamu 13 tahun, ia memintamu memotong rambut
baru Kau membalasnya dengan mengatakan bahwa ia tidak punya selera

Ketika usiamu 14 tahun, ia membayarkanmu ongkos untuk 1 bulan berlibur Kau membalasnya dengan tak sekalipun mengiriminya kabar

Ketika usiamu 15 tahun, ia pulang
bekerja, dan mengharap mendapatkan pelukanmu Kau membalasnya dengan
mengunci kamar tidurmu

Ketika usiamu 16 tahun, ia mengajarimu mengendarai mobil
Kau membalasnya dengan mencuri-curi tiap kesempatan

Ketika usiamu 17 tahun, ia mengharapkan telepon penting Kau membalasnya dengan
menggunakan telepon sepanjang malam

Ketika usiamu 18 tahun, ia menangis di hari kelulusan sekolahmu Kau membalasnya dengan pergi berpesta sampai pagi

Ketika usiamu 19 tahun, ia membayarkan uang SPP
perguruan tinggimu, dan mengantarmu membawakan tas
ke kampus. Kau membalasnya dengan
mengucapkan selamat tinggal di pintu gerbang asrama agar tidak merasa malu pada teman-teman

Ketika usiamu 20 tahun, ia bertanya apakah kamu telah
menaksir seseorang
Kau membalasnya dengan mengatakan "itu bukan urusanmu."

Ketika usiamu 21 tahun, ia mengusulkan satu pekerjaan untuk karir masa depanmu.
Kau membalasnya dengan mengatakan "aku tak ingin seperti kamu."

Ketika usiamu 22 tahun, ia memelukmu di hari wisudamu Kau membalasnya dengan
meminta ditraktir liburan ke Eropa

Ketika usiamu 23 tahun, ia menghadiahimu furniture untuk apartemen pertamamu
Kau membalasnya dengan menyebut furniture itu kepada
teman-temanmu sebagai barang rongsokan

Ketika usiamu 24 tahun, ia menjumpai tunanganmu dan
menanyakan rencana masa depanmu Kau membalasnya dengan
mengatakan "Uuuuhhh, Ibuuu...!"

Ketika usiamu 25 tahun, ia membantu membiayai pesta
perkawinanmu, dan ia menangis haru, dan ia mengatakan betapa
ia mencintaimu. Kau membalasnya dengan pindah kota menjauhinya

Ketika usiamu 30 tahun, ia menelpon dan memberimu
nasihat tentang bayimu.
Kau membalasnya dengan mengguruinya "Semua kini sudah
berbeda."

Ketika usiamu 40 tahun, ia menelpon dan mengingatkan hari
ulang tahun familimu
Kau membalasnya dengan mengatakan "Ahhh, betapa
sibuknya aku sekarang"

Ketika usiamu 50 tahun, ia sakit-sakitan dan membutuhkanmu
untuk menjagainya Kau membalasnya dengan
membacakan kisah betapa merepotkannya orang tua bagi anak-anaknya.

Sampai suatu hari ia pergi untuk selamanya. Dan segala yang tak
pernah kau bayangkan
sebelumnya, bagai halilintar menyambar JANTUNGMU.

"Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al Isra': 23-24)

"Duhai tuhan ampunilah segala
dosa ibu dan bapak ku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku dari sejak aku kecil, dan jadikanlah aku
seorang anak yang berbakti dan tahu berterimakasih"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar